Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Wednesday, September 22, 2010

Nasibah : Sang wanita perkasa

Bismillahirrahmanirrahiim...

Membaca shirah sahabiyah membuat diri ini makin sadar betapa tidak ada pap-apanya diri ini dibandingkan mereka. Mereka, para shahbiyah yang sudah mentalak tiga dunia dengan segala kefanaannya. Mereka yang tak gentar menghadapi musuh, tak takut menghadapi rasa lapar, mereka yang cintanya begitu besar terhadap Allah, Rasul-Nya, serta jihad di jalan-Nya dibandingkan diri mereka sendiri...diri ini memang tidak ada apa-apa nya...

Membaca cerita tentang shahabiyah Nasibah, membuat air mata ini terus mengalir, hati begitu kagum..Nasibah..yang menyerahkan segalanya hanya untuk Allah. Suami, anak-anak, dan jiwanya sendiri ia 'jual' kepada Allah SWT, dan Allah membayarnya dengan bayaran yang tinggi..

Kali ini...saya ingin membagi kisah luar biasa ini kepada kepada teman-teman semua sebagai bahan renungan bagi kita dan saya khususnya yang terkadang menganggap sudah banyak berkontribusi untuk agama ini. Padahal apa yang telah saya berikan jauh tak sebanding dengan apa yang nasibah berikan..

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah SAW melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah SAW,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

 Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”

 
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah SAW memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”

Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nasibah….”

“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”


Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”

sumber :

http://kafemuslimah.com/ 

Friday, February 19, 2010

ilmu pengetahuan ilmiah vs agama

" Ilmu Agama dan ilmu pengetahuan ilmiah adalah dua hal yang berbeda, akan sulit untuk menemukan titik tengahnya, susah nyambungnya!"

" Bagaimana cara kamu membuktikan kalau Tuhan itu ada melalui pendekatan ilmiah??"

................................................................................


Aliran darahnya mengalir dengan cepat, adrenalin memompa jantungnya untuk berdetak lebih kencang lagi, tubuhnya berkeringat, lidahnya kelu.
Ia hanya diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, walaupun sejuata argumen telah ia pikirkan untuk membatah pernyataan "nyeleneh" itu.

Namun...ia hanya membisu..

Suasana ruangan semakin memanas, argumen-argumen lain muncul dari mulut teman-temanya. Bermacam-macam pendapat terlontarkan, namun ia masih saja terdiam..

" Ayo bicara, keluarkan pendapatmu, kamu tau kalau argumen itu tidak benar kan? kamu tau benar bahwa ilmu pengetahuan itu sejalan dengan agama. Kamu sudah pernah mempelajari hal itu, ayo bicara, JANGAN HANYA DIAM!"

Suara hati mendesak-desak dirinya untuk berbicara, untuk ikut mngeluarkan pendapatnya.
Namun ia masih ragu untuk membuka mulutnya. Ia tahu betul kemampuan public speakingnya masih kurang terasah, ia tahu betul bahwa seringkali apa yang dikeluarkan oleh mulutnya tidak sejalan dengan apa maksudnya, sehingga terkadang timbul kesalah pahaman.

"Namun, ini tidak bisa DIBIARKAN!" lagi-lagi suara hatinya mendesak

Ia terus menimbang-nimbang untuk berbicara atau diam saja sebagai penonton.

Arggh.....ia memang selalu dipusingkan oleh perbincangan-perbincangan yang berbau ilmiah.

Ia ingat sekali terakhir kali ia berbincang mengenai hal-hal yang berbau rasionalitas, dan yang banyak menggunakan otak kiri, efek samping mulai timbul pada dirinya.
Kepalanya pusing, serasa ada asap keluar dari otaknya yang ia paksa untuk berfikir lebih rasional, lebih ilmiah. Perutnya pun ikut bereaksi, mual dan secara mengejutkan membuat ia menjadi tidak nafsu makan.
Padahal yang ia hadapi hanyalah sebuah simulasi kecil yang dibuat oleh guru ngajinya agar ia tau bagaimana harus berargumentasi bila bertemu dengan orang-orang yang "terlalu banyak" menggunakan rasionalitasnya hingga tidak percaya bahwa Tuhan itu ada.

Dan disana lah ia berada, di arena pertarungan sebenarnya..bukan sebuah simulasi belaka.

Namun kali ini yang ia hadapi bukanlah seseorang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan. Orang tersebut YAKIN bahwa Tuhan itu ada, namun ia meyakini dengan menggunakan keyakinannya saja, bukan dengan akal pikirannya.

Padahal agama dan ilmu pengetahuan ilmiah adalah dua hal yang saling menguatkan satu sama lain. Ilmu pengetahuan ilmiah membuktikan kebenaran agama.

Suara hati semakin mendesakknya lebih keras untuk menyuarakan isi hatinya. "ayo bicara!ayo bicara!"
Dan pada akhirnya, sang tangan kanan memberanikan diri untuk mengacung ke udara. Mulut memberanikan diri untuk mengeluarkan kata-kata. Walaupun jantung berdetak semakin cepat lagi, begitupun kaki gemetaran lebih kencang lagi.
Ketika semua perhatian telah tertuju padanya dan semua orang diam untuk mendengarkan kata-kata nya, keringat semakin deras membajiri tubuhnya.

Tatapan mata orang-orang yang begitu menyeramkan membuat fokus otaknya pun berpindah, tidak lagi memikirkan cara untuk mengeluarkan pikiran-pikiran rasional agar mematahkan argumen tersebut.
Otaknya pun berpikir untuk menyudahi tatapan-tatapan menyeramkan yang ditujukan padanya. Ia sudah tak tahan lagi. Kakinya gemetar lebih kencang dan ia pun tidak lagi dapat mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Kata-kata yang keluar semakin tidak terarah, dan pada akhirnya keluarlah statement dari mulutnya " SEMUA INI PASTI ADA YANG MENCIPTAKAN"

                                                                    SKAK MAT!!!

Ia tahu betul kata-kata itu adalah kata-kata yang WAJIB DIHINDARI ketika kita ingin berargumen dengan menggunakan otak kiri.

Tanpa ragu-ragu, orang tersebut langsung memberikan pertanyaan yang sudah ia duga " lalu siapa yang menciptakan TUHAN??"

DIAM...lagi-lagi ia hanya terdiam dan menyesali perkataan yang barusan keluar.

Argumen lain keluar dari mulut temannya, argumen yang cukup netral.
Ia pun hanya diam mendengar pendapat temannya itu, walaupun ia merasa kurang puas dengan pernyataan temannya, kurang ilmiah, pikirnya.

Sambil terus mendengarkan argumentasi temannya itu, dengan panik ia bolak-balik buku catatan kecilnya, mencoba mencari-cari materi tentang keberadaan Tuhan secara ilmiah yang pernah diberikan oleh guru ngajinya. Namun hasilnya nihil. Tidak ada satu kata pun tertulis disana.
Ia menyesal untuk kedua kalinya, mengapa tak ia susun dengan rapih materi-materi yang ia terima setiap minggunya.

Yaaa...penyesalan memang selalu datang belakangan.

Pembicaraan pun mulai melunak, dan orang itu tetap berkesimpulan bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan dengan pendekatan ilmiah.

Dan lagi-lagi suara hatinya menjerit " TIDAKKKKKK!!!!" dalam diamnya.

                            ***

Keesokan harinya ia tetap memikirkan perdebatan yang terjadi kemarin. Kerap ia berbicara sendiri mengemukakan argumentasinya yang tertahan.

" Justru penelitian ilmiah itu semakin ngebuktiin, kalo bumi dan alam semesta ini pasti ada yang ngatur. Tubuh kita aja udah sebegini rumitnya dengan adanya sistem organ, organ, jaringan, sampai ke sel, itu tuh bener2 teratur dan sempurna, GAK MUNGKIN LAH GAK ADA YANG NYIPTAIN DAN YANG NGATUR!"

" Itu baru dari tubuh kita aja, belom lagi dari tumbuhan, hewan, benda2 langit, tata surya, planet-plenet yang beredar dengan lintasannya sendiri tanpa ada yang pernah NABRAK atau MASUK KE LINTASAN PLANET LAIN, semua itu PASTI diatur dengan penuh keseimbangan dan keteraturan! Kalo emang semua ini terjadi dengan sendirinya, masa iya bisa serapih ini?masa iya bisa seteratur ini??"

" Kalo yang namanya probabilitas itu selalu ada, kalo emang kita ini adalah produk dari sebuah ketidak sengajaan, kenapa coba mata semua manusia semuanya terletak di tempat yang tepat,di depan? kenapa dari sekian banyaknya manusia di bumi gak ada yang matanya GAK SENGAJA ada di belakang atau di bawah?"

" Bahkan Einstein yang ilmuan ulung yang udah diakui di seluruh dunia kepintarannya aja percaya bahwa Tuhan itu ada.Semakin dia meneliti alam ini, semakin ia sadar bahwa alam semesta ini GAK MUNGKIN MUNCUL SENDIRI"

" seorang ilmuan yang menciptakan tangan robot aja mengakui, bahwa secanggih apapun ia membuat tangan robot tersebut tidak dapat menandingi tangan asli ciptaan Yang Maha Kuasa, yang sungguh begitu rumit dan sempurna"]

Arrrgh...andai saja waktu itu ia dapat mengemukakan itu semua..
Andai saja waktu itu ia dapat menguasai diri untuk tidak grogi, sehingga pikirannya bisa lebih jernih..
Arrrggghh... Andai saja...

Namun, satu hal yang pasti, yang pada akhirnya ia sadari..bahwa ada pembelajaran indah yang telah disiapkan oleh Allah untuknya.

Mungkin Allah ingin memberitahukannya, bahwa selama ini ia kurang melatih kemampuan berbicara di depan umumnya.

Bahwa selama ini ia kurang mengasah keberaniannya untuk mengatakan yang benar itu BENAR dan yang salah itu SALAH.

Bahwa selama ini ia kurang memperkaya pengetahuannya, kurang mengasah otak kirinya.

Bahwa selama ini ia KURANG MEMBACA!

Yaaa...lagi-lagi Allah membelajarkan dirinya, menyadarkannya bahwa manusia di luar sana begitu bermacam-macam dengan pemikirannya masing-masing.

Dan ia pun harus sadar bahwa ia harus mempersiapkan diri dengan bekal ilmu pengetahuan, tidak hanya Ilmu agama untuk MEMPERTAHANKAN AKIDAHNYA.